Oktober 1986
Parit Melayu.
Suasana malam ini kelam sekali. Hembusan angin juga terasa dingin. Tadi sore hujan lebat. Maklum sekarang musim hujan. Aku yakin nggak ada orang mau keluar rumah dalam keadaan cuaca seperti ini.
Angin mendesir pelan, menembus masuk ke dalam rumahku melalui sela-sela dinding rumah yang bolong-bolong di makan anai-anai. Nyala lampu minyak bergoyang-goyang. Aku segera mengulurkan kedua tanganku melingkari nyala apinya supaya tidak padam. Goyangannya sedikit reda, tapi seisi rumahku jadi gelap. Lebih baik aku biarkan saja, pikirku. Toh ibuku butuh penerangan juga. Ia melipat baju-bajuku dengan rapi.
Aku kembali duduk terpekur menyaksikan kesibukan ibu. Ia memasukkan baju-baju ke dalam tas yang lebih mirip dengan bantal guling yang di beri tali kedua ujungnya. Perasaaanku jadi campur aduk.
“Mana buku tulis yang ibu belikan kemaren?” tanya ibu. Aku segera tersadar.
“kusimpan di atas lemari.”jawabku.
“Ambilkan, sekalian ibu masukkan ke dalam tas, supaya tidak ketinggalan.” Perintah ibu.
Aku bergegas mengambil buku-buku tersebut. Lalu keserahkan ke ibu. Aku tidak tahu mau kuapakan buku ini. Tapi yang pasti ini benda yang akan selalu menemaniku setiap hari. setelah selesai, tas itu di sandarkan ke dinding.
Kupandangi tas, serta kotak itu. Hatiku semakin bergemuruh. Berarti aku benar-benar harus meninggalkan rumah. Air mataku perlahan menyebar membasahi bulu-bulu mataku, cahaya lampu minyakpun perlahan kulihat berantakan, dipenuhi warna kuning ke emasan, bercampur pekat hitamnya malam. Aku menangis. Selang beberapa lama kemudian, aku sesenggukkan.
“Sudahlah jangan menangis.”kata ibuku. “Jadi lelaki itu harus kuat, tidak boleh lemah dan harus pintar, makanya kamu harus sekolah. Ibu janji setiap liburan, nanti ayah menjemputmu.”
Aku masih sesenggukan. Sesekali punggung tanganku menyeka kedua mataku. Siapa yang lemah pikirku, aku kuat, tapi aku belum siap berpisah dengan kalian. Nanti kalau sudah besar baru aku mau merantau, ke ujung dua sekalipun aku mau, batinku.
Janji ibu juga tidak meluluhkan hatiku. malah aku merasa getir mendengar janji itu. Liburan untuk anak sekolahan kan jarang sekali. Berarti aku akan sangat jarang bertemu dengan ibu dan ayah serta adik kecilku yang berumur dua setengah tahun. Paling banter bertemu keluarga hanya 3 kali dalam setahun. Itu pun kalau ayahku tepat menjemput ketika sedang musim libur sekolah, kalau tidak maka aku tidak akan bisa bertemu dengan ibu. bagi anak umur 6 tahun seperti aku, ini adalah hal terberat.
“Rasanya aku masih mau disini.” Kataku. “toh teman-temanku semua masih di kampung, mereka tidak ke mana-mana. Kalo mau sekolah nanti kalo aku udah 10 tahun saja.”
Terus terang, aku memang iri sama teman-temanku yang lain. Mereka bebas menentukan keinginannya. Toh aku lihat mereka bahagia juga, bahkan bisa membantu orang tuanya, ke sawah, ke kebun atau menangkap ikan untuk dijadikan lauk pauk. Jadi buat apa pergi jauh-jauh untuk sekolah. Toh nantinya kalau sudah lebih besar lagi aku bisa sekolah di Parit Baco, sama teman-teman.
Ibuku memandangiku dalam-dalam.
“Dengar, Nak. Sekarang kamu belum mengerti arti penting sekolah. Nanti juga kamu faham.” Katanya lagi. “Apa kamu mau jadi buruh petani seumur-umur, jadi buruh pekerja kelapa di kebun-kebun orang lain. Apa kamu mau seperti kami, hidup di kampung terus mengerjakan yang itu-itu saja. Kamu kan mau jadi tentara, kalo mau jadi tentara ya harus sekolah.”
Aku menundukkan kepala sampai di antara kedua lututku, kemudian kedua tanganku melingkari kedua betisku. Aku belum sepenuhya faham dengan apa yang dimaksud ibuku. Tapi aku memang ingin sekali menjadi tentara. Aku suka sekali melihat pakaian loreng.
Sejujurnya aku belum tahu kenapa ibuku begitu ngotot untuk menyekolahkan aku, toh sepengetahuanku ibu maupun ayah tidak pernah memiliki selembar ijazahpun, lalu kenapa ia terlalu bersikeras menginginkan aku sekolah? Sebagian orangtua tidak ingin berpisah dengan anaknya yang masih kecil, orang tuaku malah sebaliknya.
“Sudah, ayo tidur! besok pagi-pagi kamu berangkat ke Parit Jarjani sama ayah.” Kata ibu. “Jangan lupa pasang kelambu. Nyamuk banyak.”
Aku beringsut, lalu melangkah gontai menuju bilikku. Sementara angin malam berdesir lagi, mengantarkan hawa dingin musim hujan, menyelusup menembus sarung besar yang kugunakan untuk berkemul. Nyamuk-nyamuk bernyanyi girang di dekat telingaku menandakan malam semakin larut.
****

![[Most Recent Quotes from www.kitco.com]](http://www.kitconet.com/charts/metals/gold/tny_au_en_usoz_2.gif)