Gara-gara pengen ngenet gratis, saya bela-belain nyari wifi. tadinya pngen wifi internal tapi saya di gombal ama tukang jualnya akhirnya saya beli wireless LAN USB. sebenarnya awalnya saya ragu beli yang USB, soalnya belum pernah coba.
Eeh pas saya pasang di laptopku, malah nggak mau jalan, sinyalnya ada tapi nggak bisa dibuka di Eksplorer. karena saya nggak paham cara menyettingnya saya kira barangnya rusak, dan mo saya balikin ke tempat beli.
tapi teman saya bilang jangan jangan OS saya yang nggak support katanya. Setelah sampe di kosan Os nya diupdate, kemudian besoknya saya coba lagi. Alhamulillah Jalan.
Kategori: Teknologi
Ditandai: internet, Teknologi, wireless, WLAN
SAya iseng-iseng ketik “komik petruk” di google, ternyata ada 4.340 link hasil penelusurannya. saya coba buka salah linknya, trus saya baca-baca, eh ternyata masih menarik juga.
Komik petruk ternyata banyak yang suka,cukup merakyat. kalo diangkat kedunia film wah saya yakin …. laku keras, bisa ngalahin Rambo III yang lagi diputer di amrik sekarang. apa lagi yang diangkat kisah Batman Tumaritis atau Jagoan tumaritis lain versi komik petruk. dijamin bakal seru…. tapi yang kisah demit nanti dulu diangkat udah kebanyakan demit di perfileman indonesia.
Komik petruk asli produk indonesia lho, tapi kenapa sepertinya kura diperhatikan oleh pada sineas indonesia, apa mereka tidak kenal petruk gareng? wah kebangetan klo sampe nggak kenal , anak mana sih yang tidak kenal komik petruk gareng tahun 80-an? klo memang para sineas indonesia tidak kenal petruk gareng, berarti mereka tidak gaul pada waktu kecilnya wekekekekek.
hehhe…. Klo benar jadi film nih kira-kira gambarannya. pangsa pasarnya sangat luar biasa, ambil misalnya 50% saja dari penduduk indonesia yang berumur 20-35 tahun calon penikmat filemnya. hehehehe. pasti cukup membuat filmnya masuk tataran box office. setuju nggak?
Kategori: Buku Harian · Cerita · Nasionalisme
Ditandai: batman, box office, dedemit, dll, film, gareng, indonesia, komik, penduduk, petruk, sineas, tumaritis
Hai sang kemenangan
Berapa banyak pertempuran yang engkau menangkan
Berapa banyak pecundang yang engkau kalahkan
Hingga hari ini kau tak tertaklukkan
Hai sang kemenangan
Rahasia apa gerangan yang engkau simpan
Cerita apa gerangan yang engkau harapkan
Hingga saat ini engkau tak terlupakan
Hai syahida al-falah
Setegar apa engkau melangkah
Ketika sang pecundang tertunduk menyerah
Kepada Sang Khalik engkau tertunduk Pasrah
Hai Syahida al-falah
Tafsir-tafsir hati banyaklah sudah
Syarah-syarah lisan masihlah berkilah
engkau tetaplah berjalan syahidah al-falah
hingga kapan engkau tak tertantang
hingga akupun tak merasa tenang
Akankah engkau slalu jadi pemenang
Ataukah bertambah lagi satu pecundang
Surabaya, 24 januari 2008
Penulis:
Hassan Bendjidin al-Bintiny ar-Riawy
Kategori: Puisi
Ditandai: alfalah, kemenangan, pecundang, pemenang, pertempuran, sujud, tafsir, tegar
Rebahku harap terlelap
Namun mata tak bersahabat
Senyap malam ingin kudekap
Namun bayangmu masih berkelebat
Malam malamku
Melepas dari rengkuhku
Nafas jiwaku
Terkurung dalam harapku
sejuta malam membawa asa
Hantarkan harap ke taman cahaya
Adakah waktu bisa membawa
Kabar tentang indahnya cahaya
Dengarlah wahai cahaya indahku
Jarakmu adalah kicau resahku
Kuhadirkan bayangmu bila datang malamku
Kuinginkan desahmu bila datang rinduku
Surabaya 27 Januari 2008, dinihari.
Hassan Ibn Jidin Ar-Riawy
Kategori: Puisi
Ditandai: cahaya, cinta, desah, harap, indah, kelebat, malam, nafas, rebah, rindu, sahabat, senyap
Hari ini kulihat engkau
Berdzikir diantara suara desau
lalu kutitip harap lewat doamu
saat engkau bermunajat diantara galau
hari ini kulihat engkau
bertafakkur diantara rindu
lalu kaupun tahu risauku
saat kau berpaling kepadaku
bola Matamu mengisahkan sesuatu
tafsir tatapnya pun tidaklah satu
Surabaya, 24-01-2008
20.30 malam.
Oleh : Hassan BinJidi Al-Bintiny Ar-Riauwy
Kategori: Puisi
Ditandai: bola, dzikir, harap, hari, mata, munajat, Puisi, tafsir
Aku sangat Sedih …
Ketika kita semakin bermusuhan
Aku Sangat Sedih …
Ketika Islam jadi Mainan
Aku Sangat Sedih …
Ketika Umat Islam saling Tuding
Saudaraku …
Dalam hati…
Terkadang aku bertanya …
Mengapa kita harus terkotak-kotak?
Mengapa kita harus saling menyalahkan?
Mengapa kita harus saling hujat?
Aku takut …
Ketika aku sudah merasa benar
Maka aku akan menyalahkan yang lain
Aku takut …
Ketika aku merasa telah ber Islam
Maka aku telah mengkafirkan yang Lain…
Ya Allah…
Ikatlah hati kami dengan Kalimah-Mu
Wahai Saudaraku sesama Islam
Ingatlah…
Tak ada yang dapat menyatukan kita dalam Islam
Kecuali kalimat
Laa Ilaaha Illa Llah
Muhammadan Rasulullah
Karenanya maka Kita Adalah Bersaudara…
Pekanbaru, 15 Desember 2005
Hassan Ar-Riauwy
Kategori: Puisi
Ditandai: Allah, hujat, Islam, kafir, muhammad, musuh, saudara, sedih